Bangun ketahanan diri anak

sat-jakarta.com – Kini memang beragam kejahatan di dunia maya banyak mengintai anak-anak. Bercermin dari kasus di atas, sebetulnya yang harus dikedepankan orangtua pada anak adalah membangun ketahanan diri. Dalam hal ini dengan menanamkan akan pemahaman dirinya terutama tentang body integrity (keutuhan tubuhnya) bukan kebutuhan untuk memperluas pertemenan sosialnya. Karena bila anak berinteraksi dengan orang lain pastinya akan terbuka potensi ancaman baru. Berikut ini tips untuk membangun ketahanan diri anak :

1. Ajari anak bahwa tubuhnya adalah satu kesatuan tunggal, sebagai properti yang harus dijaga, jangan sampai terbuka dan dilihat oleh orang lain. ajaran tersebut harus konsisten. Sering kali ditemui, ketika anaknya kebelet pipis lantas orangtua dengan mudahnya menyuruh anak buka celana dan pipis di dekat pohon, misalnya.

2. Orangtua tetap perlu menjaga perasaan malu yang dimiliki anak. Tuhan menciptakan mekanisme psikologis berupa ras atak nyaman pada anak. Anak mempunyai intuisi/aradar yang bisa saja tidak akurat. Namun itu merupakan mekanisme pertahanan diri secara psikologis yang alamiah untuk menghindari potensi ancaman yang ada dalam benak anak. Seringkali hal ini tidak disadari orangtua.

Contoh, ketika ada orang yang mengajak berkenalan, si anak menolak, sering kali orangtua menganggap anaknya pemalu dan menganggap sikap itu tidak baik. padahal, seharusnya perasaan anak ini dihargai dan tak perlu dimarahi. Perasaannya itu merupakan suatu amunisi alamiah yang ada pada diri anak sebagai sebuah radar untuk memastikan siapa yang boleh dekat dan tidak dengan dirinya.

3. Aktifkan radar kewaspadaan anak saat berinteraksi dengan media sosial. Caranya dengan edukasi bagaimana ia harus berperilaku di dunia maya. Anggapan dunia maya merupakan dunia yang aman perlu dirubah karena akan membuat radar kewaspadaan ini tidak diaktifkan.

Apalagi dewasa ini dengan kesibukan keluarga-keluarga modern, anak jadi tidak banyak bercerita pada orangtuanya. Padahal idealnya jika ada sesuatu hal yang mencurigakan, dapat membahayakan, membuat anak tak nyaman, atau ada ancaman, anak bisa menceritakannya pada orangtua.

Jikapun anak tidak berceritam orangtualah yang harus mengambil posisi untuk bercerita terlebih dahulu pada anaknya. Hal itu memang tidak mudah namun perlu diupayakan untuk memunculkan rasa percaya anak pada orangtuanya.