Hitam Putih Kertas

Tiga kitab seukuran bu ku novel dengan sampul keras disatukan dengan dua ikatan kawat berduri yang melilit tubuhnya. Sekujur kitab berwarna hitam. Karya berjudul Monumen Kertas itu juga dikelilingi aneka buku yang telah lenyap wujud aslinya. Selain bisa diduga dari bentuk dan ukuran umumnya, petunjuk jelas terlihat dari serpihan kertas atau seratnya yang muncul. Di lantai dua Museum Geologi, Bandung, Setiawan Sabana menggelar karyakaryanya dengan medium kertas.

Masih berkutat dengan kertas sebagai media seninya, kali ini seniman sekaligus pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu merespons museum yang semarak oleh artefak batuan dan kebumian. Bertajuk “Bumi Kertas: Tapak, Jejak, Jelajah”, pameran itu digelar bersama seniman asal Amerika Serikat, Lisa Miles.

Pameran yang dikuratori Zusfa Raihan tersebut berlangsung pada 7-28 Juli 2018. Bumi kertas, kata Setiawan, semacam ruang imajinasi dunia kertas yang berhubungan dengan bumi, pohon, serta air. Di museum yang juga berisi fosil, tengkorak manusia, serta replika satwa itu, karya Setiawan berbaur dengan suasana tempat. Ada aroma kematian di sana.

Kesan muram menyergap dari warna karyakaryanya yang cenderung gelap, meski warnanya tak selalu hitam. Kematian kertas pada sebagian kehidupan masa kini yang diwakili lewat bentuk kitab, terasa dari bentuknya yang beku dan mengeras seperti batu. Judul-judulnya melengkapi suasana itu, seperti Fosil Kertas dan Legenda Kertas. Pada karya berjudul Artefak Kertas, Setiawan menyuguhkan adonan kertas yang dibuat mengeras.

Wujudnya dibentuk seperti pilar batu pendek segi empat berwarna kelabu. “Saya pernah melihat artefak kertas yang bisa membatu di daerah suku Aborigin,” ujarnya. Karya lain berupa bongkahan dahan pohon kering yang hangus terbakar melengkapi ekspresi duka. Sejarah panjang penemuan dan inovasi kertas yang berbahan baku dari serat kayu, seperti menjelang ajal pada era digital sekarang ini. Kampanye tanpa kertas (paperless) bergaung.

Pun industrinya dikaitkan dengan isu lingkungan, seperti penebangan pohon. Di ruang pameran, Setiawan mendekatkan nasib kertas sebagai benda artefak dan koleksi museum nantinya. Namun seperti berjuang melawan takdir, beberapa orang, termasuk Setiawan, masih membuat kertas lewat proses daur ulang. Seniman kelahiran Bandung, 10 Mei 1951, ini kerap mengusung tema kertas dalam pameran tunggal sebelumnya, seperti Monumen Kertas (1997) dan Legenda Kertas (2005).

Pada pameran tunggal berikutnya yang berjudul Jagat Kertas pada 2011, guru besar di FSRD ITB itu mengembangkan kekaryaan bermedium dan bertema kertas ke dimensi yang lebih mendalam; senja kala kertas dan produk turunannya. Sarjana seni murni ITB 1977 yang juga lulusan S- 2 seni grafis dari Jurusan Seni Rupa Northern Illinois University 1982 itu, lebih dikenal sebagai seniman grafis. “Kertas dan grafis saling berkaitan, jadi sekalian,” katanya, Senin, 23 Juli 2018. Lisa Miles, yang berpameran bersamanya kali ini, ia kenal pada awal 2017.

Lulusan Master of Fine Arts bidang book arts dari University of Iowa Center for the Book 2017 itu, datang ke Bandung dan beberapa daerah di Indonesia untuk riset kertas. Fokus penelitian Lisa pada kertas daluang dan sejenisnya yang dibuat dengan cara menumbuk kulit kayu, bukan berteknik bubur kertas seperti di Cina atau Jepang. Berafiliasi dengan Setiawan dan dosen lain di Bandung, proyeknya didanai beasiswa dari The American Indonesian Exchange Foundation (Aminef). Lisa merupakan seniman kertas dan pembuat kertas asal New England.

Kekaryaannya di Museum Geologi, Bandung, bisa dibilang kontras dengan Setiawan, tapi jadi seperti yin dan yang. Dilindungi kotak-kotak kaca, ukuran karya Lisa lebih kecil dibanding karya Setiawan. Warnanya pun hampir seragam putih. Selain itu, jika tema Setiawan tentang akan terkuburnya kertas, Lisa terkesan optimistis. Karyanya terinspirasi cara pembuatan kertas dan ragam hasil serta fungsinya di masyarakat suku Maya kuno. Mantan desainer grafis itu telah mengembara ke Puebla, Meksiko, untuk belajar teknik pembuatan kertas daluang.

Karya Lisa disebut Setiawan lebih menonjolkan sisi artistik, di antaranya berupa mangkuk dari kertas daur ulang untuk bahan pangan, uang koin, sepasang patung dewa-dewi, juga mata panah. Karya dari kertas lain seperti lembaran berlubang-lubang yang diyakini sebagai kode tertentu suku kuno, peta bintang, buku hieroglyph, serta mahkota.

Pameran duet seniman kertas ini terasa menarik karena sama-sama bertolak dari masa sekarang tapi melaju ke arah berlawanan. Setiawan menatap masa depan kertas yang suram, sedangkan Lisa menghadirkan kejayaan kertas pada masa kuno dengan aneka fungsi dalam kehidupan keseharian, dari urusan perut sampai perbintangan.