Keindahan Lembah Baliem di Wamena

Keindahan Lembah Baliem di Wamena

anah yang subur dengan beragam suku di dalamnya telah mewarnai keseharian masyarakat yang sebagian besar kaum laki lakinya masih menggunakan koteka. Lembah yang di sekelilingnya terbentang pegunungan Trikora tersebut didiami oleh suku Dani, Ngalum, Ngalik, Nduga dan Yali. Sejarah mencatat, di lembah ini dahulunya sering terjadi perang antar suku yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Pemicunya lebih sering disebabkan oleh masalah perempuan, tanah dan babi. Seperti diketahui bahwa babi merupakan binatang mewah yang menandakan martabat pemiliknya.

Semakin banyak babi yang dimiliki semakin tinggi derajatnya di mata masyarakat setempat. Seiring berjalannya waktu tradisi perang antar suku ini sudah ditinggalkan. Namun kehebatan mereka dalam berperang masih bisa disaksikan sampai saat ini melalui sebuah festival yang digelar setiap tahunnya, ya.. Festival Lembah Baliem. Sebuah festival yang sudah tidak asing lagi di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia dan selalu mendapat apresiasi, baik itu dari turis lokal maupun internasional. Alasan kepergian saya ke sini salah satunya adalah ingin menyaksikan langsung perhelatan tersebut yang diadakan di ibu kota Kabupaten Jayawijaya Papua yaitu di Kota Wamena. Kota Wamena sendiri merupakan jantung tanah Papua karena letaknya persis ditengahtengah Papua.

Perjalanan Menuju Wamena
Saya memulai perjalanan dari Jakarta menuju Jayapura dengan menggunakan pesawat. Banyak pilihan maskapai penerbangan yang melayani rute ke Jayapura, mulai dari yang low cost hingga full service. Mengingat jarak tempuh dari Jakarta ke Jayapura sangat jauh, low cost pun sudah terasa mahal buat saya yaitu berkisar 2,5 juta rupiah pulang pergi. Jika dihitung secara keseluruhan cost untuk berkunjung ke Wamena selama 5 hari memang cukup besar.

Namun semua biaya tersebut sebanding dengan apa yang saya peroleh selama liburan di Papua. Perjalanan malam selama enam jam mengantarkan saya tiba di Bandara Sentani Jayapura, waktu itu jam menunjukan pukul 6.30 WIT. Dari Bandara Sentani perjalanan masih dilanjutkan dengan pesawat menuju Wamena, satu-satunya pesawat yang melayani jalur ini adalah Trigana Air. Tiket pesawat ke Wamena pulang pergi waktu itu harganya 1,7 juta rupiah.

Di tiket yang saya beli secara online itu tertera jadwal penerbangan yaitu jam 9.30 WIT, sehingga harus menunggu sekitar 3-4 jam. Saat jeda tersebut saya manfaatkan untuk mencari sarapan sekaligus istirahat sejenak. Di dalam bandara terdapat beberapa toko yang menjual makanan seperti nasi, mie instan dan soto. Setelah waktunya tiba, saya pun melanjutkan perjalanan menuju ibu kota kabupaten Jayawijaya Wamena.

Perjalanan ke Wamena ditempuh dalam waktu 50 menit dengan menggunakan pesawat jenis ATR yang memiliki kapasitas 40 seat. Beruntung, waktu itu cuaca selama perjalanan menuju Wamena cukup cerah. Menurut informasi, menjelang sore kondisinya sering tidak jelas. Jika berawan atau cuaca buruk biasanya pesawat akan kembali lagi ke Jayapura dan bisa di-cancel. Sesampainya di Wamena pukul sebelas siang, saya langsung menuju hotel yang sudah di reserved sebelumnya. Perlu dicatat bahwa sekarang sudah banyak terdapat hotel yang bisa kita gunakan sebagai tempat menginap selama di Wamena, tapi jangan berharap ada hotel berbintang.

Untuk hotel yang cukup memadai ratenya berkisar Rp. 500.000,- sampai Rp.700.000,-. Sedangkan rate untuk resort kelas deluxe sudah termasuk breakfast-nya adalah $150. Sebagai alat transportasi selama di Wamena kita bisa menggunakan jasa sewa kendaraan sekelas avanza dengan tarif Rp. 800.000,- per hari berikut bahan bakar dan supir.

Meskipun harga hotel di Wamena terbilang murah, namun hotel ini mempunyai fasilitas pendukung yang lumayan bagus. Selama menginap anda bisa menikmati akses internet gratis selama 24 jam non stop. Hotel tersebut juga mempunyai pemandangan yang bagus sehingga sangat membantu anda dalam bersantai dan melepas lelah.

Pada sektor hotel ada satu fasilitas penting yang tidak boleh di lupakan, yakni menyediakan genset diesel satu atau dua unit. Ada banyak sekali merek genset yang baik untuk hotel seperti yanmar, caterpillar, kubota, Vgenset, Mitsubishi dan Fawde.

Harga genset yanmar untuk hotel berkisar 80 juta rupiah untuk kapasitas 20 kva tipe silent. Genset tipe silent sangat pas jika digunakan pada hotel, sebab mempunyai box khusus yang dapat meredam suara secara maksimal.

Untuk memperlancar aktifitas selama berpetualang, itinerary dan fasilitas yang memadai sudah benar benar dipersiapkan. Hari pertama di Wamena lebih banyak diisi dengan istirahat dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk kunjungan ke festival dan desa desa di lembah Baliem keesokan harinya.