Pembuat Tempe Tak Mau Disebut Biang Bau Kali Item

Aroma ampas kedelai menguar dari dapur berukuran sekitar 25 meter persegi itu. Baunya cukup menusuk hidung. Di sebagian lantai tanah dapur basah oleh ampas kedelai buangan produksi tempe. Air limbah itu kemudian mengalir ke saluran air di dapur menuju selokan di depan rumah.

“Limbahnya memang kami buang ke selokan,” tutur Sanadi, 60 tahun, pembuat tempe rumahan di RT 12 RW 03, Sunter Jaya, Jakarta Utara, kemarin. Menurut pembuat tempe sejak 1973 tersebut, limbah tempe sekarang sudah tidak terlalu bau, sebab hanya air tanpa disertai kulit kedelai.

Sanadi menyadari limbah akan bermuara ke Kali Item, aliran Kali Sentiong di samping Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. Air yang mengalir di Kali Item memang berwarna kehitaman. Kali Sentiong—juga Kali Item—menjadi sorotan menjelang Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus-2 September 2018.

Musababnya, air sungai tersebut mengeluarkan bau busuk. Ketua RT 06 RW 03, Sunter Jaya, Waris Waris, menjelaskan, warga setempat menyebut Kali Sentiong dengan Kali Item sebab airnya berwarna hitam dan mengeluarkan aroma busuk.

Padahal, Kali Item yang sesungguhnya berada tak jauh dengan Kali Sentiong. Pemerintah DKI memasang jaring hitam sepanjang 700 meter dan lebar 20 meter di atas sungai. Tujuannya menambah estetika sekaligus mengurangi bau terutama pada siang hari.

Dipasang pula nano bubble dan tiga aerator. Sanadi keberatan jika limbah tempe dituding sebagai penyebab Kali Item berbau. Menurut dia, kali tercemar oleh limbah rumah tangga. “Ini juga bau karena enggak ada hujan.”

Produsen tempe lainnya, Sumaeri, pun tak mau disebut biang keladi Kali Item bau tak sedap. “Kalau pemerintah meminta kami berhenti membuat tempe selama Asian Games, kami menolak,” ujar pria warga RT 08 RW 03, Sunter Jaya, itu.

Waris mengatakan para pembuat tahu dan tempe tersebar di RT 06, 08, dan 12 yang merintis usahanya sejak 1960 dan ramai mulai 1973. Menurut Kepala Bidang Pengawasan dan Penataan Hukum Dinas Lingkungan Hidup, Mudarisin, di RW 03 Sunter Jaya terdapat sekitar 150 pembuat tahu dan tempe.

Masing-masing membuang limbah 200 liter per hari. “Mereka tidak punya IPAL (instalasi pengolahan air limbah),” ucap Mudarisin. Dia mengakui limbah juga disumbang oleh warga Kemayoran.